dfhg

Sabtu, 23 Oktober 2010

Sang Pelangi


selamat pagi malam,,,
sebuah salam dari sang pelangi.....

Menjemput Gelap

Ia menyerang membabibuta,

“Jangan sakiti dia! Jangan sakiti dia! Jangan sakiti dia!”

kalimat itulah yang selalu terucap dari kelembutan bibirnya yang indah dan terlanjur dibasahi air mata yang menodai murni bias parasnya.

“Aku mencintainya.”

Kalimat terakhir yang samar-samar terdengar oleh telingaku didalam keadaan setengah sadar setengah pingsan akibat serangan bertubi-tubi Mahluk keji dan biadab itu.

***

Aku terbangun dan terkejut,

“Ini bukan kamarku.”

Perlahan namun pasti, aku menapaki inci demi inci langkah demi langkah ruangan yang asing namun nyaman. Dingin, temaram, namun terlihat jelas sentuhan wanita dalam tata ruangnya. Rapih, bersih, dan indah.

Derap langkahku terus dan terus menapaki setiap sudut ruang hingga sampai ke bagian dapur. Mataku terpicing menelusuri seisi dapur.

“Itu dia.”

Kubuka kulas sembari meraih minuman dingin untuk menghempas dahaga di tenggorokanku.

“Anjing..!”

Hening ketengan ruang disibak oleh teriakan ku.

Gelas yang aku pegang terjatuh, lantai penuh dengan pecahan gelas dan darah segar yang baru kutuang.

Dalam gemetar, aku duduk di kursi dekat meja makan.

Kembali hening. Aku hanya mendengar suara detak jantungku yang kian lama kian cepat, diiringi hembusan nafas yang kuusahakan tetap stabil.

“Sudah bangun rupanya.”

Aku terhentak. Refleks aku bangkit dari tempat duduk dan langsung menghadap pada sumber suara yang tidak asing bagiku.

“Ini dimana?”

“Duduklah!”

Melihat senyum kekasihku, hatiku terasa tenang sampai-sampai aku melupakan kejadian yang baru aku alami.

“Tadi aku mendengar ada suara gaduh. Aku ke kamar, kamu sudah tidak ada. Ternyata disini.”

“Tadi aku menjatuhkan gelas.”

“Oh,,, Tidak apa-apa.”

Aku terdiam sejenak.

“Ini dimana?”

“Di rumah ku.”

“Jadi,,,,,”

“Iya.”

Suasana di dalam ruangan menjadi sangat hening. Namun hatiku menjadi campur aduk, tidak karuan dan terasa seakan terbakar.

“Yang menyerang kamu tadi malam adalah saudara ku.”

Lagi, airmata ini menodai paras kekasihku. Memang aku sangat kecewa dan marah, namun aku tetap mencintainya. Aku tidak akan membiarkan ia menangis. Tak ada satu alasanpun yang membuatnya bersedih di hadapanku. Ku usap air mata yang seolah menyelubingi pancaran indah murninya wajah kekasihku ini.

“Sudah tidak apa-apa.”

“Tapi,,,,”

“Aku mencintaimu. Tak peduli apapun yang terjadi dan tak peduli apapun keadaannya.”

“Aku mencintaimu.”

Aku mengulang kalimat yang keluar dengan sangat tulus dari sudut ruang hatiku yang terdalam.

Airmata kekasihku semakin deras, namun kali ini bukan airmata yang menutupi pancaran keindahan wajahnya. Airmata kakasihku kali ini diiringi sebuah senyum yang sangat tenang yang selalu berhasil membuat hatiku merasa damai. Kecantikan alami yang sempurna. Bagai permata yang tiada henti memancarkan kilau indah sinarnya.

“Bawalah aku!”

“Tapi,,,,,”

“Aku tidak peduli. Pokoknya kamu harus bawa aku pergi.”

Hatiku kembali tidak karuan. Permintaan kekasihku untuk membawa dia pergi adalah permintaan yang sangat berat bagiku untuk melakukannya namun lebih sulit lagi bagiku untuk menolaknya.

“Apa kamu yakin?”

Ia tidak menjawab. Hanya sepasang mata tajam yang hinggap di kedua mataku. Seolah berbicara dan memaksaku untuk tidak banyak bertanya. Aku menggenggam erat tangannya, sangat erat.

***

Aku menghirup udara yang sangat familiar bagi paru-paruku. Hawa hangat dari kamar kos ku. Aku segera membukakan pintu untuk kekasihku yang terlihat kelelahan. Aku tau dia lelah sebab sepanjang perjalanan dia hampir tidak berbicara. Hanya pada saat ia ingin ke toilet ia pamit padaku dengan senyum yang di paksakan. Aku paham dan memaklumi sikapnya itu. Aku tahu, dia sedang membawa beban yang sangat berat sebab ia harus meninggalkan rumah dan keluarganya demi hidup bersamaku.

Inilah cinta. Rasa saling memiliki antara dua insan yang tak pernah ingin dipisahkan. Ada suka ada duka ditemani tawa diiringi airmata dan penuh pengorbanan.

Entah, ini takdir atau apalah namanya. Pertemuanku dengannya yang bagiku merupakan awal hidup yang sebenarnya. Aku mengerti arti menjalani detik demi detik nafas dalam hidupku. Aku berjuang menjalani detik demi detik itu dan aku menghargai setiap detik itu hanya semenjak aku pertama memandang dan mengagumi keindahan yang secara alami terpancar bagai percikan cahaya mentari pagi. Akh, bagiku dia adalah jelmaan malaikat yang di utus dan turun ke bumi hanya untukku.

Dan kini malaikat itu akan selalu ada di sampingku. Dan aku selalu dapat menikmati keindahan cahaya cintanya dan kelembutuan sayap kasihnya. Satu kali lagi, HANYA UNTUKKU. Bahkan hingga saat aku telah meninggalkan dunia yang penuh dengan omong kosong ini. Aku akan tetap memeluk dan bersamanya.

Terdenger suara air saat ia mandi. Seluruh kamarku dipenuhi wangi semerbak tubuhnya. Bahkan aku terbuai dengan wangi itu aku tidak tau apakah ini masih di dunia entah apa sudah di surga.

Yang pasti aku menikmatinya.

“Mandi sana!”

Suara lembutnya menyadarkanku dari buaian itu.

“Iya.”

“Eh, kamu terlihat makin bersinar bahkan saat dengan hanya mengenakan handuk.”

“Haha…”

Ya, kecantikan dan keseksian kekasihku kian terpancar setelah ia mandi. Di tambah lagi senyuman yang telah kembali, hal yang menguatkan rasa cinta di hati.

“Ya udah, mandi gi! Biar segar.”

Aku mengecup kening kekasihku sambil lalu menuju kamar mandi yang masih menyisakan semerbak wangi malaikat hatiku. Dingin air yang menusuk tubuhku seolah terabaikan olehku. Buaian aroma sejuta tamanlah yang menguasai tubuhku.

Aku melihat kekasihku telah berbaring di tempat tidur. Aku langsung berbaring di sebelahnya, meski aku masih hanya mengenakan handuk.

“Sayang, malam ini kita Candle Light Dinner ya!”

“Udah lama kita tidak makan malam romantis.”

“Pokoknya semuanya akan ku atur.”

“Gimana?”

“Kamu mau makanan ala Prancis, atau Chines food aja?”

“Kok kamu diam aja sih?”

“Sayang!”

“Jawab dong,,,”

Aku mencoba memalingkan wajahku padanya. Akh, bukan ini yang ingin kulihat. Aku melihat wajahnya pucat pasi. Aku merasa bagai melihat bunga yang baru saja mekar telah kekeringan dan berguguran. Aku melihat sebuah taman yang seharusnya segar dan sangat subur menjadi sangat gersang.

“Haus…”

Kata yang terbata-bata dan sangat pelan ini terdengar olehku. Aku segera berlari mengambil air mineral dan mencob menyuapinya pada kekasihku. Meski pada akhirnya ia akan memuntahkannya lagi.

Aku mencoba menetuh tangannya. Aku terkejut dengan suhu tubuhnya yang sangat dingin. Dan diawali oleh getaran kecil, kini tubuh kekasihku kian bergetar hebat.

Aku telah mencoba menyuapinya air mineral tersebut lagi, lagi dan lagi namun tetap saja tertumpah dari mulutnya.

Aku kian panik. Entah harus melakukan apa. Yang aku tau kekasihku haus. Namun ia tidak mau minum. Hingga aku tersadar ia tidak membutuhkan air mineral. Ia membutuhkan darah. Selayaknya vampir-vampir yang lain.

Aku mencoba meraih pisau “sangkur” warisan dari ayahku dan merupakan barang kesayanganku dari dalam laci. Aku langsung menyayat nadi lengan kiriku. Satu buah sayatan yang sangat pasti dan tanpa keragu-raguan.

Dan segera darah segar mengalir deras dari tanganku. Aku mencoba menyodorkan tanganku kearah mulutnya, berharap ia akan menghisap setiap aliran darahku.

Aku merasakan cinta mengalir seiring darahku yang terus mengalir. Ku tumpahkan seluruh rasa cintaku bersamanya. Entah kekasihku meneguknya atau tidak, aku tak tau. Penglihatanku semakin samar, bahkan tiap detakan jangtungku membawaku kedalam keadaan yang kian lama kian tak sadar. Darah dari tangankupun seolah tak mau kalah dengan aliran cintaku.

Aku sempat melihat bantal dan tempat tidur yang di penuhi darahku, meski terlihat samar.

“Aku mencintaimu.”

Kalimat yang secara terbata-bata berusaha ku ucapkan. Hingga akhirnya penglihatanku membawaku kepada suatu kegelapan yang kian lama kian gelap. Dan entah apa yang terjadi kemudian. Aku tidak tau.

Senin, 21 Juni 2010

Waktu

Jika sekarang telah menjadi esok,,,

saat inilah sang waktu menunjukan taringnya...

Untuk memangsa segala ketidak waspadaan manusia...

Aku adalah kamu


"aku" slalu ingin dimaklumi...

Tanpa pernah memaklumi...

"aku" slalu ingin dipahami...

Tanpa pernah memahami...

Kapan ini akan berakhir???

Kapankah aku sadar bahwa "aku" adalah "kamu"???

Kau

Kau tidak harus terlalu cantik untuk aku cintai...

Kau tidak harus terlalu manja untuk aku sayangi...

Kau tidak harus terlalu tinggi untuk aku selami...

Dan aku tidak harus terlalu gila untuk mencintai...

Hujan

Alunan lagu sang hujan mengGema ruang...

Mengisi hampa yang kosoNg...

Menekankan suara tangis sang langit...

Andai,,,,,,,,,,,,

Bahasa

Aku telah cukup lelah menterjemahkan "bahasa"mu...

Dan entah kapan ada kalanya ketika memahami "bahasa"mu...

Haruskah aku dan kau berhenti untuk berusaha saling memahami???

Embun

Embun pagi..........

Dimana dirimu pada saat aku merindukan nya......

Haruskah aku berSama kami???

Ataukah kamu ingin bersama kalian???

Bagaimana dengan kita???

Dreamin

Mungkin,,,

aku masih terlalu tidak pantas untuk memintamu memimpikan aku...

Tapi,,,

setidaknya,,,

sudilah untuk sekedar hadir di dalam impian ku...

Untuk melengkapi tujuh warna ku...

Doa

Bilapun aku harus tetap memeluk takdir bahwa aku harus tetap berkubang di pekatnya lumpur kehidupan,,,

jangan pernah KAU biarkan ia terPerosok masuk kedalam kedalaman kubangan ku itu...

Shut it Up

Seribu makian,,,

sejuTa cacian kian terloNtar...

Pantaskah?????

Bilapun aku diberi kesempatan untuk memaki,,,

aku lebih memilih untuk diam...

PELANGI

Dulu,,,

seorang sahabat memiliki sebuah "pelangi malam"....

Kadang aku tertawa mendengarnya membanggakan khayalannya itu,,,

dan aku memilih tetap terbang bersama "sayap mimpiku"....

Tapi entah mengapa, malam ini aku mengharapkan sebuah pelangi hadir....

Sekedar untuk menemani hatiku yang sendiri....

Membelai lembut rambutku, memahami aku, memuji lebih ku, dan memaklumi kurang ku...

Bilakah "kau" menjadi pelangiku???

C * * * A

Berteman detak detik derap jantung,,,

sejuta rasa terwakilkan sebuah kata...

Dan di saat bahasa diam mulai menerpa,,,

Aku mulai menelaah satu demi satu sejuta makna...

"C * * * A"

Takdir

Jika saja ada sebuah alasan untuk membunuh,,,,

aku memilih membunuh diya..........

Dan bila ada sebuah alasan untuk sebuah kekonyolan mencintai,,,,,

kupilih untuk mencintaimu,,,,,

sekedar memilih pilihan-pilihan yang telah di tetapkan.......

Manusia


"Selamat pagi malam..."
Sebuah salam dari sang pelangi...

Gerimis membawa sebuah cerita,,,
kala malam mendekap cinta...
Dan Tetes demi tetes hujan kasih menghempas debu-debu kemunafikan manusia dan keDangkalannya...

Terimakasih bijaksana...

Kata dan aku

"Selamat pagi malam..."
sebuah salam dari sang pelangi...

Sastra adalah tubuhku...
Kata adalah nafasku......

Puisi adalah jiwaku...
Dan cinta adalah kunci kesetiapharianku...

Awan Q

Biarlah mereka menyebuTmu sang rembulan...
Tapi bagiku,,,
kau adalah sang awan yang setia membelai lembuT sang pelangi disetiap kehadiranNya...
Dan satu hal yang aku tahu pasti,,,
kau tak hanya akan hadir di malam...
...Tapi kau akan ada di siang dan malamku...
Membelai ketujuh warnaku...
Dan membiarkan aku tidur di pangkuanmu...

hidup dan keidupan

Sejatinya,,,
semua siklus kehidupan akan berakhir pada sebuah muara...
Dimana titik itu pulalah yang menjadi awal dari segalanya...


tanya

bilapun sanggup bertanya,,,,
siapalah yang sanggup menjawab.........
kadang aku merasa telah terlalu cukup untukku menikmati pertanyaan itu untukku sendiri.......

MALAM 2

Merangkai bulir-bulir kesetiap harian di dalam kejenuhan...

dan adakah seseorang akan kembali bernyanyi untuk langit yang sepi???

untuk sekedar merangkai waktu bersama kelam gelap sang malam....

MALAM 1

terbuai bersama gemericik air yang tetap mencoba mengerti dan memahami peuh sang malam..........

^_^

Bahkan,,,
cakrawala dan misteri senjapun takkan mampu menerjemahkan perasaan ini...
Rasa dimana cinta menggetarkan seluruh sisa rongga yang ada di jantung didalam dada ini...
dan Bila saja aku ada disana,,,
atau kau yang setidaknya sudi berada disini,,,
aku akan menggenggam kedua tangan hangat mu,,,
dan ucapkan "aku sayang kamu"...
Sesederhana itu...
^_^
Selamat pagi malam...
Sebuah salam untuk sang awan..
^_~

untuk dia, DIA, dan untukku

Tuhan,
aku tidak menyesal setelah sayap mimpi ku patah dan usang oleh masa...
tapi aku berharap ada sayap baru yang menggantikan...
akh,
'pernahkah setidaknya dia sekedar berfikir untuk menggantikan sayap patahku, tuk temani aku terbang lagi menapaki tiap sudut mimpi indahku?'

Sepucuk pesan di tepi sang embun

Sepucuk pesan ditepi sang embun,,,
ditengah dingin aliran angin...
Terlantun senari bait lagu...
Terucap Selarik baris puisi...
Tuk mencoba menepis sepi yang kian sunyi...
seiring jelang pagi...
Kusampaikan salam untuk Mu...
Melalui semua benda malam...
Dan,,,
jika saja masih ada waktu 5 jam saja bagiku,,,
aku akan terbang menghampirimu untuk menyanyikan sejuta puisi...
Bilapun itu untuk terakhir kali aku berucap di dalam hidup...

Aku masiH dan akan selalu menyayangimu...

Pelangi dan Mentari

Selamat pagi malam!!!
Terimakasih,,,
kamis kembali pagi...
Tapi ini seperti bukan kamis...
Kamis tidak begini...
Sejauh ini,,,
Aku bangga telah menjadi pelangi...
Tapi mengapa kini aku merasa menjadi mentari???
Yang memberikan kehangatan pada setiap manusia...
Namun tak hanya tak dapat di raiH...
Kini,,,
siapapun yang akan mendekatiku pasti akan mati...
Terbakar...
Hangus...
Dan musnah...
..........!????

Baik.,,,
Kini aku akan kembali memejamkan mata...
Dan kuharap ketika aku bangun lagi kamis pagi esok,,,
aku telah kembali menjadi pelangi...

Hidup,,,,

????????
???
Kapan, bagaimana, dimana, seperti apa aku lahir???
Sampai kapan, seperti apa, bagai mana aku akan mati???
Pertanyaan tentang hidup dan kehidupan...

Hai "kawan-kawan",,,
lihatlah wajah orang tua...
Perhatikan tiap kerut diwajah mereka!!!
Disana tersimpan jawaban tentang hidup dan kehidupan...


??????????
.............
!!!!!
,,,,
Ku akhiri dengan koma...
Kaulah yang memiliki hak membubuhkan sebuah titik di "akhir"...
!!!
....
,

E L E G I

Dimanakah wacana-wacana indah "ku" selama ini???
Apakah "aku" bukan lagi "kita"???
Apakah "aku" telah menjadi "kami"???
Atau iroNisnya,,,
mungkinkah "kau" telah menjadi "mereka"???

MALAM

"Selamat pagi malam"...

Mungkin saja,,,
saat ini engkau sedang terlelap...
Memejamkan mata menjemput surga...
Mengarungi mimpi,,,
melepas hari...
Namun,,,
bila mampu aku ingin meminta,,,
menginginkan,,,
agar engkau singGah untuk sekedar menyanyi dan menari...
Ceriakan hati ini...
meski hanya di dalam mimpi...
Biarkan saja aku untuk tetap bermimpi...
Usah bangunkan aku...
Atau jangan pernah biarkan seseorang membuat aku terjaga...
...
Dan biarkanlah cerita ku ini kututup dengan sebuah salam dari sang pelangi,,,
"selamat pagi malam"...

permohonan untuk Sang awan

selamat pagi malam,,,,
sebuah salam untuk sang awan

aku ingin berbagi sedikit cerita,,,
sebuah kisah indah dari sang pelangi.....
dan inilah untaian kata yang seolah takkan pernah sempurna.....

"kemarin pernah ada seseorang yang setia menemani dan tetap berada di sebelah kananku,,,,
yang seolah memaksaku untuk selalu mencurahkan seluruh kasih sayangku yang tulus hanya untuk dirinya.....
meski kenyataan mengungkapkan bahwa itu hanya sesaat....
sebab hanya demi kebahagiaannya,,,,
aku bahkan rela melakukan apapun......
bahkan bilapun itu berarti aku harus membiarkannya dan melepaskannya untuk berjalan bersama "diya" yang lain.....
dan hanya untuk kebahagiaannya,,,,,
dan demi cintaku padanya,,,,
aku siap untuk menapaki pekat dan sepi jalanan panjang dan suram....
bilapun aku sendiri.....

Namun,,,,
aku akan selalu tetap berharap untuk keramahan cinta darinya....
untuk hadir dan menemaniku menapaki jalan itu,,,,,
LAGI..."

bilakah sang awan menerima pesan ini???????????
dan mungkinkah sang awan akan KEMBALI??????
untuk duduk di sebelah kananku,,,,,
dan melengkapi tujuh warna pelangi..............

sang pelangi


selamat pagi malam,,,
sebuah salam dari sang pelangi.....